Saya bingung pada pertanyaan ini : Sebaiknya mengubah ataukah memilih takdir.?? Saya pikir, pertanyaan ini sangat menarik. Karena itu,saya posting di sini supaya mendapat masukan dari para pembaca.
Pendapat saya : TAKDIR itu sendiri sudah ‘tercetak’ buat masing-masing manusia, baik takdir "BAGUS" maupun "BURUK". Karena manusia mempunyai kehendak bebas, maka pilihan ada pada manusia itu sendiri. Jadi pendapat saya sebenarnya bukan mengubah takdir tapi memilih takdir. Bahasa memilih takdir itu menjadi "KU JEMPUT TAKDIR KU" .. jadi artinya kita tidak mengubah tapi memilih.(whekekekee..)
Makanya, pernah ketika saya membaca dan coba ngrumpi-ngrumpi dengan teman-teman alim saya mengenai "AYO UBAH TAKDIR" saya masih bingung. Karena takdir itu tidak bisa diubah (itu menurut pemahaman saya). Yang bisa saya lakukan hanya memilih. Karena takdir sudah diprogram oleh Sang Pencipta Manusia.
Kita hanya perlu memilih takdir. Seperti software, apakah kita mau menggunakan Word Processor atau Excel, sama bisa buat nulis tapi fungsi nya beda-beda.(heheheee...) Jadi, saya lebih suka memilih dengan memilih takdir atau menjemput takdir.
Pernah saya membaca buku "Buya Hamka" istilah yang beliau pakai untuk menyebut “takdir” di situ adalah “kadar” dan “nasib”. Tepatnya menyatakan:
"...Luh Mahfuz itu adalah ‘Ummul Kitab’, ibu dari kitab dan nasib, yang memegang dan mengaturnya adalah Tuhan sendiri, isinya menurut kehendak Tuhan, bukan menurut kehendak kita. Tuhan bisa merubah, juga bisa menghapuskan dan bisa menetapkan, bahkan juga menambah, bukan tetap begitu saja..."
“DihapuskanNya mana yang dikehendakiNya, dan ditetapkanNya mana yang dikehendakiNya, sebab di tanganNyalah terpegang Ibu Kitab itu.” ([QS] ar-Ra’ad [13]: 39)
Kita (pada dasarnya) tak kuasa mengubah kadar, tetapi Tuhan berkuasa. Kita wajib bekerja dan berikhtiar, supaya diubah nasib kita oleh Tuhan, diubahNya isi "Ummul Kitab" itu menurut kehendakNya, yang tidak dapat dihalangi orang lain sedikitpun. (Mengapa kita wajib berikhtiar.??) Sebab, Dia tidak akan merubah untung nasib yang menimpa kita, sebelum kita rubah lebih dahulu:
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubah nasibnya sendiri.“
Nasib bisa berubah, asal diikhtiarkan merubahnya lebih dahulu. Kehinaan ummat yang sekarang bukan didatangkan Allah dengan tiba-tiba, tetapi ummat itulah yang memilih kehinaan.(waduuh...) Kemuliaan yang tercapai oleh pemeluk agama lain, setelah mereka ikhtiarkan lebih dulu, mendatangkan kemuliaan kepada orang yang pemalas walaupun bagus pengajaran agamanya, atau mendatangkan kehinaan kepada orang yang berusaha [yakni berikhtiar] walaupun pelajaran agamanya kurang bagus, alamat tidak ada keadilan.
Allah Maha Kuasa, kuasa Dia memberikan kemuliaan kepada si goblok, kuasa pula memberikan kemiskinan kepada ummat yang giat bekerja. Tetapi kalau Tuhan melakukan kekuasaan demikian, tandanya Dia tidak adil. Padahal di antara Kekuasaan dengan Keadilan, tidak dapat dipisahkan.(wiih hebat bisa aku....)
Jadi, walau tidak secara mutlak mampu mengubah takdir, kita bisa mengubah takdir kita di bawah Kekuasaan dan KeadilanNya.
Kira-kira gitu mohon maaf, kalo cara berpikir saya aneh dan keliru. Karena saya belum bnyak mengerti dan baca-baca tentang MENGUBAH TAKDIR .. dan saya takut kualat kalau saya mengubah MADE IN ALLAH. :-D
* Tolong isi polingnya dan kasih commentnya.
all want to love, love a life and love godsend.
24.3.08
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Design by C.Simbara



Tidak ada komentar:
Posting Komentar